Jumat, 05 November 2010

Orang miskin dilarang pacaran

oleh abu tabina

Tulisan ini dilatarbelakangi dengan banyaknya ditemui perilaku menyimpang dari adik-adik remaja kita maupun teman-teman sesama pemuda yang hanyut dengan perilaku negatif pacaran pra nikah. Mudah mudahan bermanfaat..

“ dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. “
-Qs. Al Isro’: 32-

Sebagian besar masyarakat kita beranggapan bahwa perilaku pacaran merupakan sesuatu yang lumrah terjadi di zaman modern ini. Justru yang aneh adalah ketika seorang remaja putra atau remaja putri belum mempunyai pacar. Sehingga masyarakat dengan mudahnya men judge atau ‘menghukum’ mereka sebagai seorang atau remaja yang tidak laku. Pandangan ini lah yang justru menyesatkan alur pikir dan menjadi salah satu dasar seorang remaja atau pemuda yang resah apabila ia tidak memiliki pacar dan berusaha dengan gigih untuk mendapatkan pacar tersebut, agar status jomblo tidak lagi disandang. Dan secara otomatis merubah status sosial mereka.

Ironis sungguh, karena pada prinsipnya sesuatu yang dianut atau didukung oleh orang kebanyakan tidaklah secara otomatis itu menjadi sebuah kebenaran mutlak. Ada dua barometer yang menjadi patokan ketika kita ingin melihat apakah yang dianggap oleh orang kebanyakan itu adalah sebuah kebenaran, yaitu kembali ke ajaran Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam melalui dua peninggalan beliau berupa Al quran dan As Sunnah (hadits). Kesesatan pikiran terjadi ketika kita menganggap bahwa apa yang diperbuat, yang dipikirkan, dan yang dikatakan orang kebanyakan menjadi sebuah kebenaran tanpa terlebih dahulu mencari pembenaran di dua pusaka umat islam tersebut.

Lalu apa hubungannya dengan orang miskin dilarang pacaran?

Surat al isro ayat 32 di atas sesungguhnya menjadi sesuatu yang patut kita renungi bersama. Sesungguhnya kita dilarang untuk mendekati zina. Atau dengan kalimat lain dapat dikatakan bahwa jangankan berzina untuk mendekati saja sudah dilarang. Pacaran didefinisikan oleh para pemuda kita sebagai bagian dari sarana penghalalan untuk melakukan ’jamah-menjamah’. Apakah itu menjamah tangan, membelai rambut atau bahkan perilaku yang lebih dari itu.

Apalagi media televisi dan artis-artis lokal kita maupun artis internasional secara gamblang mencontohkan bagaimana bentuk pacaran yang ’baik’ itu (berpegangan tangan, berpelukan, mencium, dan lain sebagainya). Meskipun terkadang di balut dengan tema-tema berbau Islam yang justru jauh dari nilai-nilai kebaikan yang ada di agama mulia ini. Suatu kemaksiatan meskipun dimulai dengan lafaz basmalah, tetap akan menjadi perbuatan maksiat bukan?

Islam melarang sepasang anak manusia yang belum berstatus menikah untuk berdua-duaan tanpa disertai oleh saudara atau mahrom dari wanita. Bahkan sekedar untuk berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom saja sebagian besar ulama melarangnya dan ada sebagian membolehkannya tetapi dengan satu syarat, yaitu tidak ada syahwat ketika tangan ini bersentuhan dengan lawan jenis kita. Apakah kita yakin ketika kita berjabat tangan dengan seorang wanita muda, cantik, dan dengan pakaian yang menggoda tidak ada gejolak syahwat pada diri kita?..lebih baik menghindar bukan? ..(wala taq rabuzzina)...

Al quran mengajarkan kepada kita untuk menundukkan pandangan ketika berhadapan dengan kaum hawa ini, karena sesunggunhnya pada akhir zaman ada tiga fitnah yang dapat menjerumuskan kita ke nerakanya Allah yaitu fitnah harta, tahta dan wanita. Kalau fitnah harta dan tahta barangkali bisa kita hindari, tetapi fitnah wanita? Ditengah kondisi zaman yang banyak menyebarkan wanita-wanita dengan pakaian semi telanjang dan bujuk rayu mereka yang kita dengar setiap hari melalui lagu dan gerakan-gerakan mereka?..sungguh perkara yang sangat berat bagi kaum adam.

Sudah saatnya memulai untuk membentengi remaja dan pemuda kita dengan benteng akidah yang kokoh, luruskan kembali pemahaman dan pemikiran mereka tentang arti pacaran yang sebenarnya. Sehingga mereka tidak tersesat lebih jauh lagi. Berikan bekal agama yang cukup. Arahkan mereka untuk beraktivitas yang dapat menambah ilmu tentang agama islam yang sekarang sudah marak di sekolah-sekolah umum maupun madrasah.

Jadikan agama Islam bukan hanya sekadar syariat sebatas sholat, puasa, zakat dan lain sebagainya, tetapai tancapkan dan kokohkan ia sebagai ideologi kita, sehingga apapun yang kita lakukan harus bersumber dari sana. Kuncinya banyak-banyaklah membaca dan bertanya pada ulama atau yang secara keilmuan lebih tinggi dari kita. Sesungguhnya orang miskin dilarang pacaran.

Ya... orang yang minus keimanan atau miskin iman sangat-sangat dilarang untuk melakukan perbuatan pacaran. Karena sudah tentu ia akan bertindak diluar batas agama. Loh berarti orang kaya boleh pacaran?
Justru disitu kata kuncinya. Orang yang memiliki kekayaan iman tidak akan melakukan tindakan bodoh berupa perbuatan pacaran, karena sesungguhnya dia pasti mengetahui bahwa perbuatan pacaran pranikah atau sebelum menikah itu merupakan sesuatu yang dilarang oleh agamanya. So...orang miskin dilarang pacaran sobat... :)
>>>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar